INDEPENDENCE

Kalian pasti pernah mendengar, setidaknya sekali, kutipan Alm. Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia :

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”

Terasa familiar, bukan? Maksud dari perkataan Ir. Soekarno adalah, ia memiliki pemikiran untuk memajukan suatu Negara, maka Negara membutuhkan semangat para pemuda-pemudi unggul yang memiliki rasa cinta terhadap tanah airnya dan memiliki visi besar untuk memajukan Negara yang mereka tinggali.

Jika kalian ingin bukti, maka aku akan bertanya kepada kalian. Apakah kalian ingat pada masa lengsernya Presiden Kedua RI, Soeharto pada tahun 1998? Pada masa itu, Gerakan Mahasiswa Indonesia-lah yang pada akhirnya merubah nasib Indonesia menjadi lebih baik. Gerakan Mahasiswa Indonesia itu adalah Tragedi Semanggi I, Tragedi Semanggi II, dan Tragedi Trisakti. Jika ditotal, sekitar 32 korban meninggal dari ketiga tragedi tersebut dan 217 korban luka-luka di Tragedi Semanggi II. Mereka adalah para pahlawan revolusioner Indonesia yang membawa kita hingga bisa seperti ini.

Kemerdekaan berarti kebebasan, bebas dari penjajah, bebas dari tuntutan, bebas juga dari belenggu orang lain. Orang muda adalah orang-orang yang merdeka. Tapi orang muda zaman sekarang tidaklah seperti itu. Kemerdekaan hanya dimiliki sebagian orang, tapi sebagai orang yang tidak berkuasa, kemerdekaan itu hanyalah angan-angan saja.

Kasus bullying banyak terjadi pada golongan muda. Di Indonesia, di sebuah SMA Negeri di Jakarta, kasus bullying dilakukan oleh siswi senior kelas XII kepada siswi junior kelas X yang tertangkap pergi ke kafe yang ber-DJ. Para senior mengaku jika mereka hanya ingin menegur para junior yang dinilai masih belum pantas untuk berkunjung ke tempat seperti itu, tapi mereka justru menegur dengan tindakan yang tidak pantas.

Inikah yang disebut kemerdekaan? Inikah yang disebut golongan muda yang berpendidikan? Apakah pemuda ini yang diharapkan oleh Alm. Ir. Soekarno, pemuda-pemudi yang bisa memajukan Negara? Bukannya menjadi seorang yang membanggakan Negara, jika karakter para golongan muda tidak segera diubah, maka mereka hanya akan menjadi sampah masyarakat.

Sebagai Warga Negara Indonesia, kita harus merubah pandangan kita. Warna Negara Indonesia zaman sekarang memiliki tiga sikap buruk yang akan membuat Indonesia semakin sulit untuk maju. Yang pertama munafik, kedua egois, dan ketiga adalah naif. Mengapa seperti itu?

  1. Orang Indonesia cenderung bersikap seolah mereka adalah orang yang baik hati dan dermawan di media, tapi mereka yang sesungguhnya hanyalah orang-orang yang suka mencari sensasi dengan memanfaatkan keadaan.
  2. Orang Indonesia cenderung selalu menyalahkan pemerintah atas nasib mereka yang buruk. Seluruh kesulitan mereka, selalu yang disalahkan adalah pemerintah. Tapi jika pemerintah meminta mereka membayar wajib pajak, mereka tidak mau. Tidak hanya rakyatnya, tindakan pemerintah yang korupsi juga menunjukkan seberapa tinggi tingkat egoisme di Indonesia.
  3. Orang Indonesia terlalu naif, terutama para golongan tua. “Seorang yang sukses adalah orang yang selalu meraih nilai tertinggi di sekolah.” ; ”Seni dan olahraga adalah hal yang tidak penting, yang penting hanyalah matematika.” ; “IPA lebih baik dari pada IPS.”. Pemikiran-pemikiran itulah yang membuat para golongan muda Indonesia sulit menunjukkan kemampuan mereka yang andai saja dibina dengan baik, mungkin saja mereka bisa mengharumkan nama Negara.

Kawan, Indonesia telah dijajah oleh Belanda dan Jepang bertahun-tahun lamanya. Kalian tahu sendiri, bukan? Alasan mengapa Indonesia membutuhkan waktu yang lama untuk merdeka? Para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pastinya mengharapkan agar Indonesia bisa menjadi Negara maju. Perjuangan mereka, pengorbanan mereka, semua seutuhnya dipersembahkan untuk Negara. Tapi kita yang sekarang ini, pasti akan sangat mengecewakan para pahlawan yang pastinya berharap lebih dari kita.

Mungkin ada beberapa di antara kalian yang berkata, “Tidak semua orang bisa sukses dan bernasib baik,”. Mau tahu kenapa? Karena, kalian tidak pernah benar-benar serius menjalani kehidupan. Kalian yang terlahir di dunia ini adalah orang-orang yang terpilih. Tuhan mengizinkan kalian untuk hidup untuk suatu tujuan, dan Ia pastinya memberikan masing-masing orang kemampuan dan bakat yang bisa kalian raih jika kalian mau berusaha menggapainya. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Belajarlah dari salah satu Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti. Walau sewaktu sekolah pernah di drop out, namun ketaguhan dan kemauan beliau untuk belajar dan berusahalah yang membawanya pada kesuksesan sehingga bisa menjadi salah satu anggota eksekutif Negara.

Untuk bisa menjadi seorang yang sukses, kalian tidak harus menjadi seorang yang kaya raya seperti Bill Gates, atau orang super cerdas dengan IQ tinggi seperti Albert Einstein. Pertama-tama, kalian harus mencaritahu apa yang benar-benar kalian sukai. Jika kalian sudah menemukannya, kalian harus mencaritahu akan jadi apa kalian, atau profesi apa yang bisa kalian ambil jika kalian mengembangkan minat atau bakat yang kalian miliki. Selanjutnya, jika kalian merasa kesulitan, mintalah bantuan pada orang yang berpengalaman. Tapi ingat, restu orang tua itu nomor satu, nomor kedua adalah berakhlak baik, dan nomor ketiga adalah usaha pantang menyerah.

Wahai kalian para golongan muda, jadilah orang yang mandiri dan berguna. Tidak perlu muluk-muluk, dengan bisa mencukupi kebutuhan kalian sendiri saja itu sudah sangat cukup. Minimal, kalian tidak akan menambah jumlah pengangguran yang sudah banyak dan menjadi semakin banyak. Sekolah dan timbalah ilmu setinggi mungkin, karena tanpa itu semua, kalian akan mengalami banyak hambatan dalam kehidupan. Milikilah suatu keterampilan dan janganlah pelit ilmu. Mari, kita majukan Indonesia menjadi lebih baik! Ukirlah prestasimu sendiri, dan teruskan itu pada para keturunan kita yang selanjutnya agar Indonesia bisa menjadi Negara maju di kemudian hari. (Felicia XII IPS)

 

~ Indonesia, Merdeka! ~

#HUT-RI_73