HATI YANG DEGIL

Waspada hatimu menjadi degil. Apa itu itu hati yang degil? Jika kita melihat dari kamus  besar Bahasa Indonesia degil itu berarti tidak mau menuruti nasihat orang; keras kepala; kepala batu. Dari pengertian tersebut kita bisa langsung membayangkan bahwa hati yang degil adalah sikap yang dimiliki oleh orang yang susah untuk mendengar. Tindakan mendengar menggunakan telinga dapat dilakukan dengan baik oleh setiap orang. Akan tetapi untuk mencerna dan menghayati apa yang didengar, perlu upaya yang lebih besar. Tidak semua orang dapat melakukannya dengan baik. Sesuatu yang didengar tidak akan dapat dihayati, jika hanya tersimpan di dalam pikiran.

Kenali ciri-ciri hati yang degil. Dalam keseharian terutama kita sebagai warga sekolah seringkali menjumpai keadaan hati yang degil. Mungkin terlihat sepele seperti contoh cerita saat persiapan penilaian harian seorang guru sudah mengingatkan siswa untuk mempelajari contoh soal atau buku sebagai sumber soal yang akan keluar, kenyataannya selalu ada siswa yang hanya sekedar mendengarkan namun tidak melakukannya. Contoh berikutnya sekolah mengingatkan agar mempersiapkan diri di pagi hari dan berangkat kesekolah lebih awal agar tidak terjebak  macet dan terlambat tiba di sekolah. Lagi – lagi ada siswa yang hanya sekedar mendengarkan namun tidak melaksanakannya.

Dimulai dari hal – hal yang terlihat sepele diatas, lama – kelamaan jika sikap yang demikian dibiarkan maka hati kita menjadi degil kemudian akan terbiasa dan menjadi tidak peka terhadap nasihat manapun. Firman Tuhan berkata: “Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.” (Amsal 14:8). Kekerasan hati bisa menipu kita, membuat kita tidak peka atau terjebak pada kebodohan diri sendiri. Itulah sebabnya kita diingatkan “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif” (Efesus 5:15). Firman Tuhan juga jelas berkata “Tetapi apabila pernah dikatakan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman” (Ibrani 3:15). Hal ini penting untuk kita cermati. Hati merupakan pusat kontrol dari segalanya, dan segala kecemaran itu timbul dari hati yang tidak terjaga dengan baik. “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” (Markus 7:21-22).

Lewat tulisan ini kita semua diajak untuk menjadi lebih peka terhadap nasihat baik itu dari Orang tua, guru bahkan dari teman sekalipun. Kemudian yang lebih penting adalah kita berdoa kepada Tuhan agar melalui Roh Kudus kita selalu diingatkan dari hari kehari menjadi manusia yang lebih peka. (MT)