PKBN2K dan Pelayanan Sosial dalam Proses Pendidikan di PENABUR?

Salah satu motto dari BPK PENABUR adalah ‘Pelayanan”. Motto tersebut kemudian diturunkan menjadi program Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-nilai Kristiani (PKBN2K). Sejalan dengan itu, Yayasan BPK PENABUR menetapkan bahwa proses pendidikan karakter di semua sekolah harus mengarah kepada pembentukan “generasi BEST” sebagai profil lulusannya. Ciri dari generasi BEST sebagai lulusan BPK PENABUR adalah bersedia berbagi dan melayani sesamanya (Share with Society).

Salah satu bentuk pemebntukan karakter yang sudah lazim di Negara lain (mis. Korea Selatan, Amerika) adalah Pelayanan Sosial ( Community Service). Bahkan  sudah ada salah satu universitas di Jakarta yang menetapkan Pelayanan Sosial sebagai bagian yang wajib dikerjakan para mahasiswanya. Apa dan bagaimana manfaat pelayanan sosial ini bagi pembentukan karakter generasi BEST di BPK PENABUR,  mari kita cermati tulisan yang saya ambil dari http://kerohaniankatolikskaga.blogspot.co.id/2013/06/mengujicobakan-pelayanan-sosial-dalam.html

Kata “pelayanan sosial” diterjemahkan dari kata asing “community service.” Pelayanan sosial adalah pelayanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk kepentingan masyarakat atau sebuah lembaga. Pelayanan sosial ini berbeda dengan sukarelawan karena pelayanan sosial tidak selalu dilakukan secara sukarela. Pelayanan sosial dilakukan dengan berbagai alasan, yaitu 1) pemerintah memerlukan pelayanan sosial dari warga seperti wajib militer; 2) pengadilan memerlukan pelayanan sosial sebagai sanksi hukuman; 3) sekolah memerlukan pelayanan sosial tersebut sebagai persyaratan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Di Amerika, pelayanan sosial ini menjadi syarat seseorang untuk lulus dari sekolah lanjutan. Di beberapa sekolah lanjutan di negara bagian Washington, seorang pelajar harus memiliki 200 jam pelayanan sosial untuk menerima ijazah. San Francisco Unified School District menuntut siswa sekolah lanjutan untuk memiliki 100 jam pelayanan sosial sebagai syarat kelulusan.

Pelayanan sosial juga dapat menjadi hukuman atau sanksi alternatif bagi para pelanggar hukum. Dalam hal ini, pelayanan sosial menjadi sarana rehabilitasi, sanksi sosial, atau denda. Dalam hal ini, pelayanan sosial selama jam tertentu menggantikan denda yang harus ditanggung dan pelaksanaan pelayanan sosial ini harus dicatat oleh pengawas pelayanan sosial. Pelayanan sosial sebagai sanksi alternatif ini dapat dilakukan dalam banyak hal, misalnya: seorang yang membuang sampah sembarangan harus melakukan pembersihan taman atau menyapu tepian jalan, seorang yang mabuk saat mengemudi harus memberikan pembinaan di beberapa sekolah tentang bahaya mengemudi dalam keadaan mabuk, seorang pengacara yang terhukum harus melakukan tindakan pembelaan hukum secara gratis bagi mereka yang tidak bisa membayar pengacara.

Praktek pelayanan sosial yang telah dilakukan sejauh ini memiliki beberapa manfaat. Pertama, mereka yang melakukan pelayanan sosial memiliki pengalaman bersentuhan di dunia nyata. Dengan demikian, pengetahuan dan kerampilan mereka bertambah sehingga dapat membuat mereka semakin trampil di dunia kerja. Kedua, mereka dapat berlatih bersosialisasi dengan orang lain. Kebanyakan pelayanan sosial membuat orang berhubungan dengan orang lain. Dengan demikian, mereka yang terlibat dalam pelayanan sosial bisa belajar berelasi secara lebih baik dengan orang lain.

Di Indonesia, pelayanan sosial belum begitu populer. Bangsa yang dahulu dikenal dengan bangsa yang ramah ini sekarang menjadi bangsa yang liar. Komaruddin Hidayat menyatakan bahwa yang seharusnya ada dalam pendidikan – baik dalam keluarga maupun sekolah – adalah penerapan nilai kemurahan hati dan belas kasih. Namun, semuanya itu telah hilang. Yang tertinggal di sekolah, kampus dan birokrasi adalah semangat berebut, bukan semangat berbuat kebaikan (KOMPAS, 23 Juni 2013). Masih dalam media yang sama, Karen Armstrong – lewat bukunya Twelve Steps to a Compassionate Life (2010) – menyatakan bahwa dunia sedang terpolarisasi secara sangat berbahaya. Ada ketidakseimbangan yang mencemaskan antara kekayaan dan kekuasaan. Hal itu dapat membuat kemarahan, kebencian, keterasingan, dan keterhinaan meledak dalam kekejaman yang membahayakan. Menanamkan aspek belas kasih kepada kaum muda menjadi hal yang sangat penting dan berdampak sangat panjang.

Kesadaran untuk mau terlibat dalam pelayanan sosial perlu dilakukan melalui kegiatan sehari-hari yang sangat sederhana. Cara hidup yang mengedepankan belas kasih ini merupakan antitesis dari karakter hidup keji dan suka mencuri. Orang korupsi itu bermental miskin karena meskipun sudah berkecukupan masih merasa miskin terus menerus. Berbeda dengan orang yang bermental kaya, yang meskipun hidup pas-pasan tetap mau berbagi karena merasa hidupnya sudah cukup. Maka, perlulah kita mengenal apa yang dikatakan oleh Ibu Teresa dari Kalkuta,“Sebarkanlah kasih kepadapun kamu pergi. Janganlah biarkan siapapunyang datang kepadamu pergi tanpa merasa lebih gembira.”

 Bagaimana pendapat anda setelah membaca tulisan di atas tentang pelayan sosial? Dapatkah kita sebagai yayasan, sekolah, dan orangtua menerapkan ‘pelayanan sosial’ sebagai bagian pendidikan karakter bagi anak-anak dan siswa kita? Tulisan ini kiranya dapat memicu diskusi yang sehat tentang kemungkinan pelayanan masyarakat sebagai bagian pendidikan karakter di SLTA. (HL:2017)