Pengakuan Iman Pribadi vs Pengakuan Iman Kekinian

Pengakuan Iman Pribadi vs Pengakuan Iman Kekinian (Matius 16:13-19)

“Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”

Jaman sekarang orang berusaha mengikuti apa yang menjadi ‘kekinian’. Apa yang lagi ngetrend. Apa pun bentuknya, orang berusaha mengikuti. Supaya dibilang tidak ketinggalan jaman mungkin.

Pada saat Tuhan Yesus melayani, sebelum Ia mati disalibkan, banyak orang bertanya-tanya, siapakah Yesus sebenarnya. Beragam pendapat muncul di sekitar pertanyaan ituAda pendapat yang ngetrend saat itu.  Yaitu, Yesus adalah Elia, Yesus adalah Yeremia. Sisanya, Yesus adalah salah seorang dari para nabi.

Ternyata Yesus tertarik untuk mengetahui, siapakah diriNya menurut para muridNya. Dia mulai bertanya. Diawali dengan bertanya siapakah Dia menurut orang banyak. Menurut pendapat yang ngetrend di kalangan orang Israel. Maka munculah data tadi disampaikan murid-muridNya. Namun Tuhan Yesus tidak puas kalau murid-muridNya beriman hanya menurut pendapat mayoritas, menurut apa kata orang. Ia ingin murid-muridNya memiliki pengakuan pribadi setelah mereka berinteraksi cukup lama dan intensif denganNya. Karena itu Ia bertanya. “Tetapi apa katamu, Siapakah Aku ini.” Lalu muncullah Petrus dengan jawaban tegas dan tidak ikut-ikutan. “Engkau adalah Mesis, Anak Allah yang hidup!” Jawaban ini pun mendapat apresiasi Tuhan Yesus sebagai jawaban yang datangnya dari Bapa di sorga, bukan dari hasil hanya mendengar apa kata orang.

Saudara yang kekasih, sebagai orang Kristen kita telah mendapat banyak pengajaran dan informasi tentang siapakah Allah Tritunggal itu. Dari orangtua. Dari guru sekolah minggu. Dari pendeta. Bahkan dari guru agama dan para sahabat. Namun bagi Tuhan, pengakuan iman kita tentang Dia tidak cukup hanya berdasarkan apa kata mereka. Pengakuan iman haruslah sesuatu yang keluar dari hati. Sesuatu yang merupakan hasil dari proses perjumpaan dan relasi yang terus menerus dan intim dengan Dia. Pengakuan yang meupakan hasil dari pengalaman-pengalaman bersama dengan Allah, bukan berdasarkan pengalaman orang lain saja.

Pengakuan Iman yang seperti itu jauh lebih tangguh dan menetap dibanding hanya berdasarkan apa kata orang. Iman seperti itu tidak akan mudah runtuh.. Sekalipun semua orang meninggalkan Tuhan, kita akan menetap pada Tuhan. Iman seperti itu adalah iman seperti batu karang. Dapat menjadi landasan dan pegangan di kala susah dan sengsara.

Bergaul dan berjumpa dengan Allah melaui firmanNya dan pengalaman-pengalaman yang mengikutsertakan Allah, akan membentuk iman yang bukan ikut-ikutan. Tapi iman yang personal dan teguh.

(HL:2017)